Kalau selama ini olahraga Korea Selatan yang paling sering muncul di layar cuma taekwondo atau olahraga modern, ternyata ada satu tradisi yang nggak kalah menarik, yaitu Ssireum. Sekilas, Ssireum memang terlihat seperti gulat karena dua orang saling berhadapan dan berusaha menjatuhkan lawannya. Bedanya, olahraga tradisional Korea ini punya ciri khas berupa satba, yaitu kain atau sabuk panjang yang melingkari pinggang dan salah satu paha pegulat. Dari sabuk inilah kedua pemain saling berpegangan dan mencari celah untuk menjatuhkan lawan ke tanah. Jadi, bukan sekadar adu kuat atau siapa yang paling besar badannya. Keseimbangan, posisi kaki, timing, teknik menarik, serta kemampuan membaca gerakan lawan justru punya peran besar. Ssireum sendiri sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Korea selama berabad-abad dan pada 2018 resmi masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO.
1. Keseimbangan jadi senjata utama
Dalam Ssireum, pemain harus pintar menjaga pusat gravitasi tubuh sambil mencoba mengganggu keseimbangan lawan. Sedikit saja posisi kaki atau tubuh kehilangan kontrol, lawan bisa langsung memanfaatkan momentum tersebut untuk menjatuhkan.
2. Bukan cuma adu badan gede
Ukuran tubuh memang bisa berpengaruh, tetapi teknik tetap menjadi bagian penting. Pemain menggunakan tangan, kaki, dan pegangan pada satba untuk melakukan berbagai gerakan menjatuhkan lawan.
3. Arena tradisionalnya menggunakan pasir
Pertandingan Ssireum secara tradisional dilakukan di atas pasir. Ini membuat olahraga tersebut terasa berbeda dari gulat modern yang umumnya berlangsung di atas matras. Arena pasir juga sudah menjadi bagian dari karakter tradisional permainan ini.
4. Pemenangnya punya gelar khusus
Dalam pertandingan tradisional, pemenang utama dikenal sebagai Jangsa. Pada tradisi lama, pemenang bahkan mendapatkan seekor sapi atau lembu sebagai hadiah yang melambangkan kemakmuran dan kuatnya hubungan olahraga ini dengan masyarakat agraris Korea.
5. Bukan sekadar pertandingan olahraga
Ssireum juga punya fungsi sosial. Olahraga ini dimainkan dalam berbagai festival, hari raya tradisional, pasar, hingga kegiatan komunitas. Jadi, orang datang bukan cuma untuk melihat siapa yang menang, tetapi juga untuk berkumpul dan ikut merasakan suasana acaranya.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah, Ssireum menarik karena hampir seluruh tubuh ikut bekerja. Pemain harus mengontrol posisi kaki sekaligus mempertahankan tubuh tetap stabil ketika menerima tarikan atau dorongan. Secara biomekanika sederhana, pertarungan ini sangat berkaitan dengan pusat massa, gaya, tumpuan, dan momentum. Pemain yang mampu membuat pusat massa lawannya keluar dari area tumpuan akan punya peluang lebih besar untuk menjatuhkannya. Makanya, orang yang kelihatannya lebih kecil belum tentu kalah dari lawan yang lebih besar. Dalam pandangan urban, ini yang bikin Ssireum terasa unik: olahraga ini mengajarkan bahwa kekuatan tanpa kontrol bisa sia-sia. UNESCO juga mencatat Ssireum sebagai olahraga yang membantu pengembangan fisik dan mental serta memperkuat solidaritas komunitas. Tradisi ini bahkan diwariskan melalui keluarga, lingkungan masyarakat, dan lembaga pendidikan.
Pada akhirnya, Ssireum bukan cuma versi tradisional dari gulat. Di balik gerakan saling menjatuhkan, ada teknik, keseimbangan, sejarah, dan budaya Korea yang sudah bertahan sangat lama.